Jusnan C. Mokoginta: Warisan Sejarah, Tempaan Birokrasi, dan Makna Pengabdian
- account_circle Media Alternatif
- calendar_month 13 jam yang lalu
- print Cetak

dr. Jusman Calamento Mokoginta, MARS
Manado, MEDIAALTERNATIF.ID – Tidak semua orang yang memiliki latar belakang keluarga terpandang mampu membangun perjalanan pengabdian. Sebab, nama besar bisa diwariskan, tetapi kapasitas, integritas, dan prestasi harus diperjuangkan.
dr. Jusnan Calamento Mokoginta, MARS, merupakan figur yang menarik untuk dibaca bukan hanya dari jabatan yang pernah diembannya, melainkan juga dari latar belakang keluarga, perjalanan karier, dan tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya.
Ia tumbuh dari lingkungan keluarga yang memiliki pengalaman politik dan akar sejarah yang kuat.
Ayahnya dikenal sebagai politisi Partai Golkar yang pernah menjabat Ketua DPRD Kabupaten Bolaang Mongondow sebelum pemekaran daerah. Sementara dari garis ibundanya, Corry Pontoh, Jusnan terhubung dengan sejarah kebangsawanan Kerajaan Kaidipang Besar, melalui Hasan Ram Pontoh atau Jogugu, putra Raja Ram Suit Pontoh.
Dua latar belakang ini mempertemukan dua tradisi yang berbeda, tetapi sama-sama memiliki pengaruh dalam perjalanan sosial masyarakat: tradisi politik pemerintahan dan warisan sejarah kerajaan.
Namun, membaca sosok Jusnan semata-mata dari garis keturunan tentu tidak cukup. Sebab, dalam kehidupan publik modern, kebangsawanan bukanlah ukuran kompetensi, sebagaimana kedekatan dengan dunia politik keluarga tidak otomatis menjamin keberhasilan seseorang dalam birokrasi.
Yang membuat perjalanan Jusnan menarik justru bagaimana ia membangun jalannya sendiri melalui profesi, pengalaman, dan tanggung jawab pemerintahan.
Berangkat dari profesi dokter, Jusnan memasuki ruang pengabdian yang menuntut pemahaman terhadap kebutuhan dasar manusia.
Pengalaman profesionalnya kemudian berkembang ke ranah manajemen kesehatan dan birokrasi pemerintahan.
Ia pernah memimpin RSUD Namlea, mengemban tanggung jawab sebagai Kepala Dinas Kesehatan di Bolaang Mongondow Timur, dan Bolaang Mongondow Utara, kemudian dipercaya menjadi Sekretaris Daerah Kabupaten Bolaang Mongondow Utara.
Perjalanan itu menunjukkan perpindahan tanggung jawab dari pelayanan profesional menuju pengelolaan organisasi publik. Dalam birokrasi, perubahan peran tersebut bukan perkara sederhana.
Seorang pejabat tidak cukup memahami persoalan teknis; ia juga harus mampu mengelola sumber daya manusia, membangun koordinasi, menerjemahkan kebijakan menjadi program, serta mempertanggungjawabkan keputusan yang diambil.
Puncak kepercayaan politik-administratif yang pernah diterimanya datang ketika ia dilantik sebagai Penjabat Bupati Bolaang Mongondow pada 22 Mei 2024.
Jabatan tersebut bukan sekadar tambahan dalam daftar riwayat hidup. Posisi itu membawa tanggung jawab untuk menjaga kesinambungan pemerintahan, mengawal pelayanan publik, dan memastikan roda administrasi daerah tetap berjalan di tengah dinamika politik menjelang pergantian kepemimpinan definitif.
Dari sini, rekam jejak Jusnan dapat dibaca sebagai perjalanan seorang profesional kesehatan yang berkembang menjadi birokrat senior, kemudian dipercaya menjalankan fungsi kepemimpinan pemerintahan daerah.
Tentu, rangkaian jabatan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Penilaian yang lebih utuh membutuhkan data tentang capaian program, kualitas pelayanan, pengelolaan anggaran, serta dampak kebijakan terhadap masyarakat.
Akan tetapi, pengalaman lintas sektor dan kepercayaan yang pernah diberikan kepadanya merupakan modal kelembagaan yang patut diperhitungkan.
Dalam konteks Bolaang Mongondow Raya, pengalaman seperti itu memiliki arti tersendiri.
Daerah membutuhkan birokrat yang bukan hanya memahami regulasi, tetapi juga mengenal karakter sosial masyarakat, mampu menjembatani kepentingan politik dengan kebutuhan administrasi, dan tetap bekerja dalam koridor hukum.
Di tengah kecenderungan politik yang sering mengukur seseorang dari popularitas, dukungan kelompok, atau kedekatan dengan pusat kekuasaan, perjalanan birokrasi mengajarkan pelajaran yang berbeda: reputasi yang bertahan tidak dibangun hanya melalui sorotan, tetapi melalui kemampuan menjalankan tanggung jawab secara konsisten.
Di sinilah sisi positif Jusnan patut ditempatkan secara proporsional. Ia memiliki modal sejarah keluarga, pengalaman profesional, dan perjalanan panjang dalam pemerintahan.
Tantangannya sekaligus adalah memastikan bahwa seluruh modal tersebut terus menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat.
Warisan leluhur seharusnya menjadi pengingat tentang tanggung jawab, bukan alasan untuk merasa lebih tinggi.
Pengalaman birokrasi seharusnya melahirkan kebijaksanaan, bukan sekadar kebanggaan atas jabatan. Dan kepercayaan politik seharusnya menjadi amanah untuk melayani, bukan alat untuk membangun keistimewaan pribadi.
Pada akhirnya, kebesaran seseorang tidak berhenti pada siapa ayahnya, dari garis keturunan mana ia berasal, atau jabatan apa yang pernah didudukinya.
Kebesaran itu diuji oleh apa yang ia kerjakan, bagaimana ia memperlakukan masyarakat, dan seberapa jauh pengabdiannya meninggalkan manfaat bagi daerah.
Jusnan C. Mokoginta memiliki perjalanan yang layak dicermati dalam sejarah birokrasi Bolaang Mongondow Raya.
Bukan karena ia harus dipandang sempurna, melainkan karena perpaduan latar belakang keluarga, profesi kedokteran, pengalaman birokrasi, dan amanah kepemimpinan daerah menghadirkan satu pelajaran penting: sejarah memberi seseorang akar, pengalaman memberinya kemampuan, tetapi pengabdianlah yang menentukan nilai dirinya di mata masyarakat.
- Penulis: Media Alternatif



Saat ini belum ada komentar