Dari Bajingan Tolol ke Kursi Wantimpres
- account_circle Media Alternatif
- calendar_month 13 jam yang lalu
- print Cetak

Rocky Gerung. (Istimewa)
Manado, MEDIAALTERNATIF.ID – Dalam politik, kata-kata kadang memiliki umur yang panjang. Ia bisa terlontar dalam sebuah perdebatan, menjadi kritik terhadap kekuasaan, lalu suatu hari kembali hadir sebagai cermin bagi orang yang pernah mengucapkannya.
Rocky Gerung adalah salah satu intelektual yang selama ini dikenal dengan bahasa kritiknya yang keras terhadap pemerintah dan kekuasaan. Kata-kata tajam menjadi bagian dari cara dia membedah politik, bahkan tidak jarang menggunakan istilah yang keras dan kontroversial.
Namun politik memang memiliki jalan yang kadang sulit ditebak.
Hari ini, orang yang dahulu berdiri di luar pagar kekuasaan, mengkritik dari kejauhan, kini justru mendapat kursi di dalam lingkar kekuasaan sebagai anggota Wantimpres.
Maka, judul “Dari Bajingan Tolol ke Kursi Wantimpres” bukan sekadar permainan kata. Di situlah letak satir dan ironi politiknya.
Kemarin bahasa kritik diarahkan kepada kekuasaan. Hari ini, sang pengkritik justru duduk di salah satu ruang yang memberi pertimbangan kepada kekuasaan.
Di sinilah persoalannya menjadi menarik.
Apakah setelah duduk di dalam sistem, kritik masih akan memiliki keberanian yang sama? Apakah kata-kata yang dahulu begitu tajam masih mampu berdiri tegak ketika berhadapan dengan meja kekuasaan? Ataukah kursi akhirnya memiliki kemampuan yang sangat halus untuk mengubah cara seseorang memandang kekuasaan?
Tentu kita tidak perlu terburu-buru menjawabnya.
Saya kira Rocky perlu diberi kesempatan untuk membuktikan dirinya melalui tindakan. Sebab, masuk ke dalam sistem tidak otomatis berarti kehilangan sikap kritis. Sebaliknya, berada di dalam sistem justru bisa menjadi kesempatan untuk membuktikan bahwa kritik bukan sekadar keberanian berbicara, tetapi juga keberanian memberikan gagasan, mengoreksi kebijakan, dan menawarkan jalan keluar.
Di luar kekuasaan, seseorang bisa dengan mudah mengatakan bahwa pemerintah keliru. Tetapi ketika sudah berada di dalam lingkar pertimbangan kekuasaan, tantangannya menjadi lebih berat: bukan hanya mengatakan apa yang salah, tetapi ikut menjelaskan bagaimana memperbaikinya.
Di situlah kata-kata bertemu dengan kenyataan.
Dan mungkin di situlah pula makna terdalam dari judul ini:
Dari Bajingan Tolol ke Kursi Wantimpres bukan semata-mata perjalanan dari sebuah ungkapan menuju sebuah jabatan, melainkan perjalanan dari kritik menuju ujian pembuktian.
Sebab kursi kekuasaan tidak selalu membungkam kritik, tetapi kursi juga bisa menjadi tempat paling sunyi untuk menguji apakah kritik itu benar-benar lahir dari prinsip atau hanya karena seseorang belum mendapatkan kursi.
Karena itu, biarlah waktu yang menjawab.
Tidak perlu buru-buru memuji karena jabatan. Tidak perlu pula terburu-buru menghukum karena masa lalu. Beri ruang untuk bekerja, tetapi tetap awasi dengan pikiran yang kritis.
Sebab pada akhirnya, sejarah politik tidak terlalu sibuk mengingat siapa yang paling keras berbicara.
Sejarah akan lebih lama mengingat siapa yang tetap memegang prinsip ketika akhirnya mendapatkan kesempatan untuk duduk di dekat kekuasaan.
Dan di titik itulah Rocky sekarang berada: dari luar yang mengkritik kekuasaan, menuju ke dalam untuk memberi pertimbangan kepada kekuasaan.
Ironinya sederhana, tetapi maknanya panjang.
Kursi telah berubah. Sekarang tinggal kita lihat, apakah prinsipnya juga ikut berubah.
Catatan :
Alfian Polla Daini
- Penulis: Media Alternatif



Saat ini belum ada komentar