Dugaan Aktivitas Gudang Solar Ilegal Bikin Resah! Warga Minta APH Seret ‘Bos’ Solar CK ke Meja Hijau
- account_circle Media Alternatif
- calendar_month 4 jam yang lalu
- print Cetak

Foto : pantauan gudang solar yang diduga milik CK di kawasan Ringroad dan sekitar pintu tol Manado punya penjagaan yang ketat lewat pintu pos. (dokumentasi : mediaalternatif)
Manado, MEDIAALTERNATIF.ID – Kesabaran masyarakat sudah habis! “Kerajaan” megah mafia solar subsidi yang diduga milik CK alias Charles yang berdiri angkuh di Jalan Ringroad kini bukan sekadar merampok hak BBM rakyat kecil, tetapi telah bermetamorfosis menjadi mesin teror yang mengancam keselamatan warga sekitar.
Keberanian komplotan ini menimbun dan menyelundupkan BBM secara terang-terangan bak menampar keras wajah aparat penegak hukum di Sulawesi Utara, seolah membuktikan bahwa sang mafia lebih sakti daripada hukum di negeri ini.
Truk-truk pembawa solar ilegal yang keluar-masuk gudang tanpa mengenal waktu kini memicu amarah warga sekitar yang sudah berada di ubun-ubun.
Keselamatan, ketenangan, dan kenyamanan mereka dirampas paksa oleh kerakusan praktik gelap tersebut.
“Kami warga di sini sudah sangat muak dan resah! Tiap hari, siang malam truk-truk tangki besar milik CK keluar masuk bikin bising, jalanan rusak, dan debu di mana-mana. Yang paling kami takutkan, ini kan timbunan bahan bakar minyak ilegal, kalau sampai meledak atau kebakaran, rumah kami yang bakal rata dengan tanah! Apa APH mau tunggu ada nyawa warga melayang dulu baru mau turun tangan?” geram salah seorang warga sekitar Jalan Ringroad.
Modus CK di kalangan mafia BBM memang bukan rahasia lagi. Tanpa rasa takut dan tanpa dilengkapi dokumen penebusan yang sah, komplotan CK diduga secara leluasa menyedot paksa jatah solar subsidi dari sejumlah SPBU di Kota Manado.
BBM yang seharusnya dinikmati sopir angkutan dan masyarakat kecil itu kemudian ditimbun di “kerajaannya”, sebelum dijual kembali ke wilayah Kota Bitung dengan harga selangit demi meraup untung miliaran rupiah.
Penderitaan warga ini mengundang reaksi keras dari berbagai pihak yang mencium adanya pembiaran terstruktur.
“Aktivitas haram ini sudah berlangsung sejak lama. Pertanyaannya, aparat penegak hukum sengaja tutup mata atau bagaimana? Penelusuran kami di lapangan, kendaraan truk bebas keluar masuk, sampai truk tangki kepala biru berjejal di situ. Para sopir angkutan resmi sudah sangat resah karena aktivitas ilegal ini. Kapolri dan Kapolda sudah ganti, sudah saatnya APH turun tangan, sapu bersih mafia ini sesuai arahan tegas Pak Presiden!” beber salah seorang praktisi hukum dengan nada geram, Kamis (1/10/2026) siang.
Sikap kebal hukum CK ini makin telanjang di depan mata publik. Teranyar, armada distribusi BBM curian berupa kendaraan truk tangki berwarna Putih-Biru dengan bebasnya beroperasi melakukan aktivitas bongkar muat di kawasan Dermaga Singa Raja, Paceda, Kecamatan Madidir, Kota Bitung.
Rencananya, ribuan liter solar haram tersebut akan dimuat dan diselundupkan ke kapal KM Jaya Sentosa 89.
Warga yang resah kini menagih komitmen aparat kepolisian untuk membongkar tuntas “kerajaan” mafia solar tersebut, mengingat pucuk pimpinan kepolisian di Nyiur Melambai baru saja mengeluarkan ultimatum keras.
“Seperti perintah pimpinan, tidak ada ruang bagi aktivitas ilegal di Sulawesi Utara! Jika menemukan, langsung laporkan dan pasti akan ditindak,” tegas Kapolda Sulut Irjen Pol. Yudo Hermanto, S.I.K., M.M melalui Dirkrimsus Kombespol FX Winardi.
Kendati gelombang protes dan bukti di lapangan semakin kuat, redaksi tetap menjunjung tinggi asas praduga tak bersalah (presumption of innocence) dan asas keberimbangan (cover both sides).
Hingga berita ini diturunkan, tim redaksi telah berupaya melakukan konfirmasi dan menghubungi pihak CK alias Charles untuk meminta klarifikasi terkait keresahan warga, keabsahan dokumen, hingga aktivitas bongkar muat di Dermaga Singa Raja.
Namun sayang, belum ada tanggapan resmi dari pihak yang bersangkutan. Redaksi akan terus membuka ruang hak jawab seluas-luasnya bagi manajemen CK agar persoalan ini menjadi terang benderang di mata publik.
- Penulis: Media Alternatif



Saat ini belum ada komentar