Sherina Munaf Bongkar Horornya Karhutla Kalteng: Asap Masuk Pesawat hingga Turun Langsung Padamkan Api
- account_circle RedaksiMedia
- calendar_month 14 jam yang lalu
- print Cetak

Artis Sherina Munaf saat ikut langsung membantu memadamkan karhutla di Kalimantan Tengah. (dok.sherinamunaf)
Kalteng, MEDIAALTERNATIF.ID – Artis Sherina Munaf ikut membantu pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Konservasi Taman Wisata Alam Galeget Tiawu, Kalimantan Tengah.
Ia bahkan turun langsung membantu tim di lapangan memadamkan bara yang kembali menyala.
Pengalaman tersebut dibagikan Sherina melalui unggahan media sosialnya bersama @pawerfulvoices pada Rabu (2/9/2026).
Sebelum tiba di Kalimantan Tengah, Sherina terlebih dahulu merasakan langsung dampak kabut asap saat berada di dalam pesawat dari Jakarta.
Penerbangannya sempat mengalami keterlambatan karena jarak pandang yang menurun akibat kepulan asap.
“Ini ada delay karena ada kesulitan visibilitas, jadi asap tebal sekali. Dikhawatirkan nanti ada kesulitan buat landing,” ujar Sherina.
Menjelang pesawat mendarat, kondisi di luar jendela pesawat terlihat semakin keruh. Sherina mengatakan, yang terlihat bukanlah awan, melainkan asap tebal berwarna kekuningan.
“Ketika mau landing, mulai tuh terlihat keruh sampai akhirnya enggak kelihatan apa-apa dan itu bukan awan, itu asap,” ungkapnya.
Bahkan, bau asap disebut terasa hingga ke dalam kabin pesawat. Sherina kemudian memilih menggunakan masker karena mulai merasakan iritasi.
“Bau asapnya itu sampai masuk ke dalam pesawat. Aku langsung otomatis pakai masker karena lama-lama gatal,” lanjutnya.
Lihat Titik Api Kecil, Asapnya Sudah Parah
Sesampainya di Kalimantan Tengah, Sherina juga melihat langsung sejumlah titik api di kawasan Jalan Lingkar Luar.
Menurutnya, meski api yang terlihat relatif kecil, dampak asap yang ditimbulkan cukup parah. Ia khawatir api dapat kembali membesar jika kondisi angin menguat.
“Di Jalan Lingkar Luar itu ada sumber api juga. Sepertinya udah dipadamin, cuma kita bisa melihat bekasnya tuh hitam dan ada beberapa api-api kecil yang muncul. Semoga enggak, tapi kalau angin kencang, bisa jadi api besar,” jelas Sherina.
Ia pun menyoroti dampak asap terhadap masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah terdampak.
“Api yang sekecil itu aja, impact asapnya udah parah banget dan enggak kebayang warga di sana terdampaknya setiap hari,” sambungnya.
Sherina Ikut Gotong Selang Air
Sherina kemudian turun langsung membantu tim melakukan pemadaman di kawasan Konservasi Taman Wisata Alam Galeget Tiawu.
Dalam unggahan Instagram Story-nya, ia memperlihatkan aktivitas pemadaman bersama tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah.
“Tim BKSDA Kalteng sudah melakukan pemadaman selama 8 hari ini. Sempat padam 2 hari, tapi hari ini bara mulai menyala lagi,” tulis Sherina.
Proses pemadaman tidak mudah. Asap yang tebal membuat jarak pandang di lokasi menjadi terbatas, sementara bara yang kembali muncul harus segera ditangani agar tidak menjalar.
“Sejam usaha madamin bara-bara yang muncul cukup menguras energi. Asap kencang sekali, visibilitas rendah,” katanya.
Sherina juga memberikan apresiasi kepada petugas dan para pejuang lapangan yang terus berjibaku menangani karhutla.
“Luar biasa para pejuang lapangan yang berjam-jam sampai menginap demi cegah api menjalar,” imbuhnya.
Hotspot Karhutla Kalteng Meningkat
Sementara itu, berdasarkan data Sistem Informasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) Kementerian Kehutanan dengan cut-off 1 September 2026, sejumlah wilayah di Indonesia mengalami peningkatan titik panas atau hotspot.
Kalimantan Barat tercatat mengalami kenaikan dari 273 menjadi 859 hotspot. Kalimantan Tengah meningkat dari 253 menjadi 623 titik.
Kenaikan juga terjadi di Sumatera Selatan, dari 20 menjadi 89 titik, serta Kalimantan Selatan dari 22 menjadi 73 titik.
Sementara Riau masih berada di angka nol hotspot. Adapun Jambi yang sebelumnya tercatat nol meningkat menjadi empat titik.
Data tersebut menunjukkan bahwa ancaman karhutla masih perlu mendapat perhatian serius, khususnya di wilayah yang mengalami peningkatan hotspot dan kondisi cuaca yang berpotensi mempercepat penyebaran api.
- Penulis: RedaksiMedia



Saat ini belum ada komentar