Berita Terbaru
light_mode
Trending Topik
Beranda » Hukum & Kriminal » Hukum, Tambang, dan Martabat Ekologis Sulawesi Utara

Hukum, Tambang, dan Martabat Ekologis Sulawesi Utara

  • account_circle Media Alternatif
  • calendar_month Senin, 22 Jun 2026
  • print Cetak

Oleh: Dr. Reinhard Tololiu, Aspidum Kejati Sulut.

Dalam kisah lama tentang Raja Midas, segala yang ia sentuh berubah menjadi emas. Sekilas itu terdengar seperti berkat. Namun ketika roti, air, bahkan pelukan untuk anaknya ikut membeku menjadi logam dingin, Midas mengerti satu hal yang sederhana: kekayaan tanpa kebijaksanaan adalah kutukan yang menyamar sebagai anugerah. Sulawesi Utara berdiri di hadapan pelajaran itu. Tanah, laut, hutan, dan mineralnya menawarkan kemungkinan yang besar; tetapi kemungkinan tanpa arah mudah menjelma menjadi labirin. Orang masuk membawa harapan, lalu keluar membawa konflik, luka ekologis, dan pertanyaan etis yang belum terjawab.

banner 336x280

‎Karena itu, isu pertambangan yang diduga ilegal di provinsi ini tidak sepatutnya dibaca semata sebagai cerita tentang siapa menambang dan siapa ditindak. Ia lebih jujur dilihat sebagai cermin retak dari tata kelola sumber daya alam kita. Pantulannya memperlihatkan izin yang perlu diuji, pengawasan yang barangkali belum optimal, dokumen yang harus diperiksa, dan relasi kuasa yang menuntut kejujuran. Hukum yang sehat memang harus tegas. Tetapi ketegasan tanpa kejernihan hanyalah kekerasan yang berseragam.

‎Di sinilah ada tiga hal yang kerap dicampuradukkan: tambang legal, tambang rakyat, dan tambang ilegal. Tambang legal berdiri di atas izin resmi, mengikuti standar teknis, memenuhi kewajiban lingkungan, dan dapat dimintai pertanggungjawaban. Tambang rakyat tidak berarti bebas hukum; ia tetap memerlukan ruang dan prosedur, dikenal melalui Izin Pertambangan Rakyat (IPR) di dalam Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR), agar tidak mencederai keselamatan bersama. Sementara tambang ilegal berjalan tanpa dasar perizinan yang sah, atau menyimpang dari ketentuan yang berlaku. Maka perizinan bukan sekadar administrasi. Ia adalah kompas moral sekaligus alat teknis: supaya tanah tidak diperlakukan sebagai benda mati, sungai tidak dipandang sebagai saluran limbah, dan warga tidak menjadi penonton di halaman rumahnya sendiri.

Secara konstitusional, hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat telah dijamin Pasal 28H ayat (1) UUD 1945, lalu dijabarkan dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Pengelolaan pertambangan sendiri diatur dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 tentang Mineral dan Batubara. Dalam kerangka itu, negara berkewajiban mengatur, mengawasi, menindak, dan memulihkan. Namun hukum hanyalah salah satu bahasa peradaban. Di balik pasal, izin, dan sanksi, tersimpan pertanyaan yang jauh lebih dalam: manusia macam apa yang sedang kita bentuk bila alam hanya dibaca sebagai angka produksi? Pembangunan macam apa yang kita nikmati bila air kehilangan kejernihannya, tanah kehilangan kesuburannya, dan laut kehilangan daya hidupnya?

Lawrence M. Friedman, guru besar hukum di Stanford Law School, dalam The Legal System: A Social Science Perspective (Russell Sage Foundation, 1975), mengingatkan bahwa hukum bukan sekadar kumpulan aturan tertulis. Ia bekerja melalui tiga unsur: substansi – yakni aturannya, struktur – yakni lembaga penegaknya, dan budaya hukum – yakni kesadaran masyarakatnya. Kerangka ini berguna untuk membaca persoalan tambang. Bila aturan ada tetapi pengawasan rapuh, strukturnya belum bekerja. Bila aparat hadir tetapi warga takut melapor, budaya hukumnya belum tumbuh. Dan bila masyarakat marah lalu memilih main hakim sendiri, kesadaran hukum justru kehilangan disiplin etisnya. Di sinilah tantangan terbesar kita: merawat keberanian tanpa kekerasan, kecurigaan tanpa fitnah, dan pengawasan tanpa anarki.

Lon L. Fuller, guru besar hukum di Harvard Law School, dalam The Morality of Law (Yale University Press, 1964), menegaskan bahwa hukum memiliki moralitas internal; ia harus jelas, dapat dipahami, taat asas, dan tidak dijalankan secara sewenang-wenang. Dalam bahasa sederhana, warga berhak mengetahui aturan mainnya. Pemerintah perlu membuka arsitektur perizinan secara terang: di mana lokasi izin, siapa pemegangnya, apa kewajiban reklamasinya, bagaimana hasil pengawasannya, dan ke mana pengaduan dialamatkan. Ketertutupan kerap melahirkan keretakan sosial, sebab ruang informasi yang kosong selalu cepat diisi oleh rumor dan amarah yang bergerak jauh lebih gesit daripada verifikasi.

Karena itu, jalan keluar tidak cukup dengan operasi penindakan sesaat. Penegakan hukum tetap penting, terutama untuk mencegah pembiaran. Tetapi tindakan hukum perlu beriringan dengan kalibrasi ulang tata kelola. Pemerintah pusat dan daerah perlu memperkuat koordinasi, merapikan data izin, menutup celah administrasi, serta memastikan pemulihan lingkungan tidak berhenti sebagai janji di atas kertas. Aparat penegak hukum perlu bekerja transparan, profesional, dan proporsional. Pelaku usaha perlu menyadari bahwa legitimasi bisnis tidak lahir dari dokumen semata, melainkan dari tanggung jawab sosial dan ekologis. Masyarakat pun perlu menempuh jalur resmi: mencatat lokasi, waktu, bukti, dan saksi – tanpa intimidasi dan tanpa perusakan.

Warga juga perlu menolak bentuk-bentuk kecil dari korupsi ekologis: menerima uang tutup mulut, membiarkan sungai tercemar karena merasa “bukan urusan saya”, atau diam-diam ikut menikmati hasil kegiatan yang patut diduga bermasalah. Kadang jalan paling realistis adalah jalan pengurangan: kurangi ketertutupan, kurangi perantara yang tak perlu, kurangi toleransi pada pelanggaran kecil, ataupun kurangi kebiasaan menuntaskan masalah lewat bisik-bisik. Dari pengurangan itulah ruang publik yang lebih bersih perlahan tumbuh.

Sulawesi Utara tidak pernah kekurangan keindahan. Yang ia butuhkan adalah keberanian untuk merawatnya dengan hukum yang jernih dan kebudayaan yang matang. Pada akhirnya, pertanyaan kita bukan hanya berapa banyak mineral yang bisa diangkat dari perut bumi, melainkan berapa banyak martabat yang sanggup kita pertahankan di atasnya. Jalan pintas menjanjikan hasil cepat sambil meninggalkan cermin yang kian retak. Jalan yang jujur memang lebih lambat. Tetapi ia menjaga air tetap layak diminum, tanah tetap bisa ditanami, laut tetap sanggup menghidupi, dan hukum tetap menjadi rumah bersama; bukan sekadar suara keras yang datang terlambat, setelah kerusakan terjadi.

‎(mp)

  • Penulis: Media Alternatif

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Penyerang Timnas Spanyol Lamine Yamal (tengah) bertanding dalam pertandingan final Piala Dunia 2026 antara Spanyol vs Argentina di Stadion New York New Jersey, Amerika Serikat, Senin (20/7/2026) dini hari WIB. (Xinhua/Li Ming)

    Buntut Kekalahan di Final, Puluhan Ribu Suporter Argentina Galang Petisi Tuntut Laga Ulang Lawan Spanyol

    • calendar_month Sabtu, 25 Jul 2026
    • account_circle Media Alternatif
    • 0Komentar

    Manado, MEDIAALTERNATIF.ID – Hasil Final Piala Dunia 2026 antara Spanyol melawan Argentina masih menyisakan polemik panas. ‎Kekalahan 0-1 La Albiceleste lewat babak perpanjangan waktu memicu gelombang protes dari para pendukungnya yang menuntut Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) untuk menggelar ulang pertandingan tersebut. ‎Seperti diketahui, Timnas Spanyol berhasil keluar sebagai juara dunia setelah gol tunggal Ferran […]

  • Diperiksa Penyidik Tipikor Polda Sulut, Steven Kandouw : Hormati Proses Hukum

    Diperiksa Penyidik Tipikor Polda Sulut, Steven Kandouw : Hormati Proses Hukum

    • calendar_month Selasa, 8 Apr 2025
    • account_circle Media Alternatif
    • 0Komentar

    Manado, MEDIAALTERNATIF.ID – Polemik terkait dana hibah Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Utara (Sulut) ke GMIM terus berproses di Polda Sulut. Terbaru mantan Wakil Gubernur (Wagub) Sulut Steven Kandouw diperiksa dan dimintai keterangan di Mapolda Sulut, Selasa (8/4/2025). Steven Kandouw diperiksa penyidik tipikor Polda Sulut sekitar 11 jam sejak pukul 10.00 wita sampai pukul 20.55 wita. […]

  • Christiany Eugenia 'Tetty' Paruntu (CEP)

    Kantongi 14 Dukungan Kabupaten dan Kota serta Sayap Partai, CEP Tinggal Dilantik Ketua Golkar Sulut

    • calendar_month Rabu, 14 Mei 2025
    • account_circle Media Alternatif
    • 0Komentar

    Manado, MEDIAALTERNATIF.ID – Christiany Eugenia Paruntu (CEP) dipastikan akan mempimpin kembali Partai Golongan Karya (Golkar) Sulawesi Utara (Sulut). Bukan tanpa alasan karena politisi cantik yang saat ini duduk sebagai wakil rakyat di Senayan sudah mengantongi atau mendapat dukungan penuh dari 14 DPD II Kabupaten dan Kota dalam Musyawarah Daerah (Musda) DPD I Golkar Sulut yang […]

  • Pastikan Distribusi BBM Bersubsidi Tepat Sasaran, Polsek Sario Tingkatkan Patroli di SPBU

    Pastikan Distribusi BBM Bersubsidi Tepat Sasaran, Polsek Sario Tingkatkan Patroli di SPBU

    • calendar_month Minggu, 16 Mar 2025
    • account_circle Media Alternatif
    • 0Komentar

    Manado, MEDIAALTERNATIF.ID – Dalam upaya menjaga ketertiban dan memastikan distribusi bahan bakar bersubsidi tepat sasaran, Polsek Sario menggelar patroli rutin di sejumlah SPBU, Sabtu (15/3/2025). Kegiatan ini bertujuan untuk memantau proses penyaluran BBM bersubsidi agar berjalan lancar dan tidak disalahgunakan. Personel Polsek Sario melakukan pengawasan langsung, berdialog dengan petugas SPBU, serta memberikan imbauan kepada warga […]

  • Calon Gubernur Sulawesi Utara, Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus SE dengan latar Pelabuhan Peti Kemas Kota Bitung. (Foto: Istimewa)

    YSK Soroti Pentingnya Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Bitung sebagai Entry Point Impor

    • calendar_month Minggu, 17 Nov 2024
    • account_circle Media Alternatif
    • 0Komentar

    Bitung, MEDIAALTERNATIF.ID – Calon Gubernur Sulawesi Utara, Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus SE, menyoroti pentingnya Penyesuaian Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Bitung yang berdampak positif bagi masyarakat, khususnya pasca ditetapkannya Pelabuhan Kota Bitung sebagai salah satu dari tiga titik pemindahan pelabuhan impor (entry point) untuk sejumlah komoditas ke wilayah Indonesia Timur yang telah menjadi […]

  • Christodharma Sondakh

    Jabatan Boleh Berakhir, Pengabdian Tak Padam: Christodharma Sondakh Purna Tugas Setelah 36 Tahun

    • calendar_month Senin, 31 Agt 2026
    • account_circle Media Alternatif
    • 0Komentar

    Manado, MEDIAALTERNATIF.ID – Setelah mengabdikan diri selama 36 tahun 8 bulan, Christodharma Sondakh resmi mengakhiri perjalanan panjangnya sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara. Terhitung mulai 1 September 2026, Sondakh memasuki masa purna tugas setelah menutup karier pemerintahan dengan pangkat Pembina Utama, golongan IV/e. Jabatan terakhir yang dipercayakan kepadanya adalah Kepala […]

expand_less