Manado, MEDIAALTERNATIF.ID – Debutan Piala Dunia, Cape Verde, terus mencuri perhatian. Setelah mengejutkan publik dengan menahan imbang Spanyol, tim asal Afrika itu kembali menunjukkan daya juangnya dengan bermain imbang 2-2 melawan Uruguay pada Minggu (21/6/2026).
Dua hasil impresif secara beruntun membuat Cape Verde menjadi salah satu kisah paling menarik di turnamen tahun ini. Di tengah keterbatasan sumber daya dan status sebagai pendatang baru, mereka kini memiliki peluang nyata untuk melangkah ke fase gugur.
Pelatih Cape Verde, Bubista, menilai pencapaian timnya menjadi bukti bahwa mimpi dan kerja keras mampu mengalahkan berbagai keterbatasan, termasuk faktor finansial.
”Ketika sudah berada di lapangan, banyak hal menjadi setara. Sebesar apa pun lawan di panggung dunia, banyak tim nasional menjadi setara,” ujar Bubista kepada wartawan.
Ia menegaskan bahwa perjuangan Cape Verde membawa pesan yang lebih besar dari sekadar sepak bola.
”Kami ingin menunjukkan bahwa bukan hanya dalam sepak bola, tetapi juga dalam aspek kehidupan lainnya. Bahwa Anda bisa meraih hal besar terlepas dari tantangan, baik finansial maupun lainnya, selama Anda punya mimpi dan mengejarnya,” katanya.
Hasil tersebut membuat Cape Verde menempati posisi ketiga grup dengan dua poin, jumlah yang sama dengan Uruguay. Mereka hanya terpaut dua angka dari Spanyol yang berada di puncak klasemen. Sementara Arab Saudi berada di dasar klasemen dengan satu poin, membuat persaingan memperebutkan tiket ke babak berikutnya masih sepenuhnya terbuka.
Melihat performa timnya melawan dua kekuatan besar dunia, Bubista menganggap target lolos ke fase gugur kini menjadi sesuatu yang realistis.
”Melihat apa yang sudah kami lakukan melawan dua tim kelas dunia, saya pikir sangat wajar jika kami fokus untuk lolos,” ujarnya.
Meski optimistis, Bubista meminta para pemainnya tetap menjaga kerendahan hati menjelang laga penentuan melawan Arab Saudi. Menurutnya, lawan mereka masih memiliki peluang yang sama untuk melaju sehingga pertandingan dipastikan tidak akan mudah.
Lebih dari sekadar mengejar prestasi olahraga, Cape Verde juga membawa misi memperkenalkan negaranya kepada dunia.
“Kami di sini untuk menunjukkan negara kami ke seluruh dunia. Ini bukan hanya soal sepak bola, tetapi juga budaya, musik, sejarah, dan para pendukung kami,” kata Bubista.
Di luar lapangan, pelatih berusia 56 tahun itu juga menunjukkan rasa hormat kepada pelatih Uruguay, Marcelo Bielsa. Ia bahkan memberikan hadiah khusus kepada sosok yang dianggapnya sebagai salah satu inspirasi terbesar dalam dunia kepelatihan.
“Bagi saya dan banyak pelatih lainnya, terutama di Afrika, Bielsa adalah seorang master. Kami telah mempelajari apa yang ia lakukan sepanjang kariernya,” ujar Bubista.
Kini, dengan satu pertandingan tersisa dan kepercayaan diri yang terus meningkat, Cape Verde berpeluang menulis sejarah baru. Tim yang datang tanpa status unggulan itu sedang membuktikan kepada dunia bahwa mimpi besar bisa membawa negara kecil bersaing dengan para raksasa sepak bola.
sumber : reuters










