Manado, MEDITERANIA.ID – Setelah dipastikan menjadi salah satu kontestan Super League, Adhyaksa FC mulai memikirkan kandang untuk dijadikan homebase dalam menjalani kompetisi sepakbola di Indonesia musim 2026/2027.
Tim yang sebelumnya bermarkas di Banten Internasional Stadium (BIS) ini terus berupaya mencari solusi pindah homebase karena kehadiran penonton dalam setiap laga kandang pada kompetisi Pegadaian Championship Liga 2 masih belum sesuai harapan.
Presiden klub Eko Setyawan mengungkapkan bahwa ada beberapa daerah yang menjadi target dan sedang dijajaki oleh manajemen.
”Ada beberapa daerah yang ingin menjadi home base kami. Namun, saat ini kami masih melakukan penjajakan. Bagaimanapun juga, Adhyaksa membutuhkan atmosfer pertandingan dengan dukungan suporter yang besar,” kata Eko, Senin (11/5/2026) dikutip dari skor.id.
Menanggapi itu, pemerhati sepakbola Sulut Marcoven Lumapow mengajak manajemen Adhyaksa FC untuk melihat potensi yang ada di Bumi Nyiur Melambai.
Menurutnya, sepakbola Sulut memiliki basis suporter yang besar, antusias masyarakat Sulut akan olahraga ini sangat luar biasa.
Ia berpendapat bahwa dengan adanya tim Super League Indonesia yang berkandang di Sulawesi Utara itu akan memberikan nilai tambah yang besar untuk daerah.
”Mulai dari aspek ekonomi, jelas perputaran ekonomi akan meningkat, potensi pendapatan untuk UMKM, dan lapangan pekerjaan. Pariwisata juga akan ikut terdongkrat dengan hadirnya supporter-supporter dari tim lawan,” jelas Lumapow, Selasa (12/5/2026).
Pengusaha muda ini juga menyinggung aspek sosial dimana masyarakat akan bisa menyaksikan secara langsung bintang-bintang sepakbola terbaik di kompetisi tertinggi sepakbola indonesia ini.
”Dengan hadirnya tim Super League di Sulut juga akan membuat talenta-talenta muda sulawesi utara semakin termotivasi dan berpotensi untuk masuk ke liga 1 indonesia ini,” ujarnya.
Diketahui, Adhyaksa FC finish di posisi ketiga Pegadaian Championship Liga 2 musim 2025-2026 usai menaklukkan Persipura Jayapura dengan skor 1-0 pada babak play-off di Stadion Lukas Enembe, Jayapura, 8 Mei lalu.
(red)
















