KUTAI BARAT, MEDIAALTERNATIF.ID – Gelombang penolakan terhadap kehadiran Ustaz Abdul Somad (UAS) kembali mencuat. Setelah sebelumnya mendapat penolakan dari 15 ormas adat saat hendak berkunjung ke tanah Minahasa, kini sikap serupa datang dari Aliansi Masyarakat Peduli Kutai Barat (Kubar), yang terdiri dari puluhan organisasi masyarakat, tokoh pemuda, dan tokoh masyarakat setempat.
Aliansi tersebut secara tegas menolak rencana kedatangan UAS yang dijadwalkan menghadiri kegiatan keagamaan di Kabupaten Kutai Barat pada 4 Juli 2026 mendatang.
Pernyataan sikap itu disampaikan dalam konferensi pers yang digelar di Kedai Kopi Lain Hati, Kelurahan Simpang Raya, Kecamatan Barong Tongkok, Sabtu (13/6/2026).
Koordinator Aliansi Masyarakat Peduli Kubar, Yehezkil Pomen, menegaskan bahwa penolakan tersebut sama sekali tidak dilandasi sentimen agama ataupun keyakinan tertentu.
Menurutnya, masyarakat Kutai Barat selama ini hidup berdampingan dalam keberagaman dan menjunjung tinggi nilai toleransi antarumat beragama.
”Perlu kami tegaskan bahwa kami tidak alergi terhadap agama atau kepercayaan apa pun. Selama ini kami hidup bersama dalam keberagaman, baik Islam, Kristen, Hindu, Buddha, Kaharingan maupun kepercayaan lainnya,” ujar Pomen.
Ia menjelaskan, keputusan aliansi diambil setelah mencermati sejumlah materi dakwah dan pernyataan Abdul Somad yang beredar luas di berbagai platform media. Menurut mereka, beberapa pernyataan tersebut berpotensi menimbulkan keresahan dan mengganggu harmoni masyarakat yang selama ini hidup rukun dalam kemajemukan.
Salah satu pernyataan yang menjadi sorotan adalah pandangan UAS terkait simbol salib yang sebelumnya sempat memicu kontroversi di tengah publik.
”Bagi kami, pernyataan-pernyataan seperti itu berpotensi melukai perasaan umat beragama lain dan dapat mengganggu kerukunan yang selama ini terjaga di Kutai Barat,” katanya.
Aliansi menilai, apabila tetap dihadirkan sebagai penceramah, kehadiran Abdul Somad berpotensi memicu ketegangan sosial di tengah masyarakat. Karena itu, mereka meminta panitia penyelenggara untuk mempertimbangkan kembali sosok penceramah yang akan diundang dalam kegiatan tersebut.
Meski demikian, Pomen menegaskan bahwa pihaknya tidak menolak pelaksanaan kegiatan keagamaan yang direncanakan. Bahkan, ia mendorong panitia menghadirkan tokoh agama lain yang dinilai mampu menyampaikan dakwah secara sejuk, menenangkan, dan memperkuat semangat persatuan dalam keberagaman.
”Kami tidak menolak agama Islam. Bahkan di dalam keluarga kami sendiri ada yang beragama Islam. Yang kami tolak adalah kehadiran Abdul Somad sebagai penceramah dalam kegiatan tersebut,” tegasnya.
Di akhir pernyataannya, Aliansi Masyarakat Peduli Kutai Barat mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tetap menjaga situasi yang kondusif serta mengedepankan dialog dalam menyikapi perbedaan pandangan.
”Kami berharap perbedaan pendapat ini tidak menimbulkan benturan di tengah masyarakat. Aspirasi yang kami sampaikan dilakukan secara terbuka dan damai demi menjaga kerukunan yang selama ini menjadi kekuatan masyarakat Kutai Barat,” tutup Pomen.
(toar)










