Saat Rumah Tak Lagi Sama, Ketua TIDAR Sulut Datang Menguatkan Keluarga Korban

Berita, Bolmong Raya1080 Dilihat

Kotamobagu, MEDIAALTERNATIF.ID – Lima hari setelah tragedi maut dalam ajang Drag Race-Drag Bike Kotamobagu Championship 2026, duka masih menyelimuti keluarga para korban.

‎Di tengah sorotan publik yang perlahan mereda, Ketua Tunas Indonesia Raya (TIDAR) Sulawesi Utara, Standius Bara Prima, memilih datang langsung menemui keluarga yang kehilangan orang tercinta.

banner 336x280

‎Kamis (13/8/2026), Bara tiba di Kotamobagu setelah sebelumnya mengunjungi sejumlah korban yang masih menjalani perawatan di RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou Manado.

‎Dari Manado, ia melanjutkan perjalanan untuk mendatangi rumah-rumah keluarga korban.

‎Kedatangannya didampingi Wakil Wali Kota Kotamobagu Rendy Virgiawan Mangkat, anggota DPRD Sulawesi Utara Dhea Lumenta, Ketua Panitia Drag Race-Drag Bike Lucky Sugeha, pengurus TIDAR Sulut dan Kotamobagu, serta Asisten I Pemkot Kotamobagu Sahaya Mokoginta.

‎Rombongan pertama mendatangi keluarga korban di Kelurahan Upai, Kecamatan Kotamobagu Utara, sebelum melanjutkan kunjungan ke Desa Pontodon.

‎Di Pontodon, rombongan disambut Sangadi Mulyono Mokodompit bersama keluarga. Suasana duka masih begitu terasa.

‎Bara tidak hanya menyerahkan santunan dan menyampaikan belasungkawa. Ia juga memilih duduk bersama keluarga korban, mendengarkan dan memberikan dukungan secara langsung.

‎Kunjungan kemudian berlanjut ke sejumlah keluarga korban lainnya, termasuk di Kecamatan Bilalang, Kabupaten Bolaang Mongondow.

Satu per satu rumah didatangi. Tangan dijabat dan keluarga ditemui.

‎Tragedi yang terjadi pada Minggu (9/8/2026) tersebut menewaskan delapan orang dan menyebabkan sejumlah lainnya mengalami luka-luka.

‎‎Ajang yang semestinya menjadi hiburan dan olahraga itu berubah menjadi duka mendalam setelah mobil peserta menabrak penonton di area lintasan.

‎‎Para korban kemudian mendapat perawatan di sejumlah rumah sakit di Kotamobagu dan Manado.

‎Di tengah dukacita, Bara Prima memilih hadir langsung ke rumah keluarga korban untuk menyampaikan belasungkawa dan menyerahkan santunan.

‎Kehadiran itu menjadi bentuk dukungan kepada keluarga yang masih menghadapi kehilangan.

‎Sebab, bagi keluarga korban, delapan orang yang meninggal bukan sekadar angka dalam pemberitaan. Di balik setiap nama terdapat keluarga, kenangan, dan kehidupan yang berubah untuk selamanya.

Lima Hari Setelah Tragedi

‎Lima hari mungkin cukup bagi sebuah tragedi untuk perlahan bergeser dari pemberitaan utama. Namun bagi keluarga korban, lima hari justru menjadi awal perjalanan panjang untuk menerima kehilangan.

‎Rumah masih menyimpan foto, pakaian dan barang-barang milik mereka yang telah pergi. Suara dan kehadiran yang sebelumnya memenuhi rumah kini berganti dengan kesunyian.

‎Santunan memang tidak dapat menggantikan orang yang telah tiada. Namun kehadiran langsung di tengah keluarga yang berduka menjadi pesan bahwa mereka tidak menghadapi masa sulit itu sendirian.

‎Bara datang mengetuk pintu rumah-rumah korban bukan sekadar membawa bantuan, tetapi juga menyampaikan pesan kemanusiaan: duka mereka dilihat, kehilangan mereka didengar, dan keluarga korban tidak dilupakan.

‎Pada akhirnya, ketika riuh mesin dan sorak penonton telah berhenti, yang tersisa adalah keluarga yang harus melanjutkan hidup dengan kenangan terhadap orang yang mereka cintai.

‎Dan di tengah kesunyian itu, kehadiran seseorang untuk duduk bersama, mendengar dan memberikan dukungan mungkin menjadi hal sederhana yang memiliki arti besar bagi mereka yang sedang berduka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *