MEDIAALTERNATIF.ID – Tim Eropa yang terdiri dari duta besar dan pejabat tinggi kedutaan besar Belanda, Austria, Prancis, Spanyol, Bulgaria, Lithuania, Belgia, Portugal, Republik Czech, Irlandia, Denmark, Finlandia, serta Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia, mengunjungi lokasi program “Marine Biodiversity and Support of Coastal Fisheries in the Coral Triangle” (Dukungan terhadap Keanekaragaman Laut dan Perikanan Pesisir di Segitiga Terumbu Karang).
Program kerjasama dengan Kementerian Kehutanan (Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem) yang dilaksanakan di Sulawesi Utara dan Maluku Utara ini didanai oleh Uni Eropa melalui Bank Pembangunan Jerman (KfW), berkolaborasi dengan Wildlife Conservation Society (WCS) Indonesia Program.
Program ini dibangun berdasarkan program terpisah namun saling melengkapi, yang didanai oleh Kementerian Lingkungan Hidup, Aksi Iklim, Konservasi Alam, dan Keselamatan Nuklir Federasi Jerman (BMUKN) – yang mencakup Sulawesi Utara, Aceh, dan Nusa Tenggara Barat.

Hal ini mencerminkan aksi bersama antara Uni Eropa dan negara anggotanya dalam berkontribusi pada konservasi keanekaragamanhayati serta ekonomi biru yang berkelanjutan di Indonesia.
Indonesia berada di jantung Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle), pusat keanekaragaman hayati laut dunia.
Sulawesi Utara, khususnya kawasan Minahasa Utara, menjadi salah satu lanskap kunci dalam program ini karena menyimpan ekosistem terumbu karang, padang lamun, dan hutan mangrove.

Selain menjadi kawasan penyangga bagi Taman Nasional Bunaken dalam pelestarian ekosistem perairan, wilayah ini juga menopang ketahanan pangan dan penghidupan ribuan masyarakat pesisir.
Dalam kunjungan ini, Tim Eropa dan Pemerintah Indonesia sama-sama meninjau kawasan konservasi laut, serta bertemu langsung dengan kelompok masyarakat dari Desa Gangga Dua, Bahoi, Lihunu, Tarabitan, Bulutui dan Galo-Galo.
Melalui pertemuan ini, delegasi berkesempatan melihat langsung sejumlah capaian dari kolaborasi antara pemerintah, mitra internasional, dan masyarakat lokal dalam menjaga kelestarian ekosistem laut dan perekonomian pesisir.

program kerja sama pengelolaan perikanan berkelanjutan di Kabupaten Minahasa Utara bersama Kementerian Kehutanan (Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem) yang didanai oleh Uni Eropa melalui Bank Pembangunan Jerman (KfW), berkolaborasi dengan Wildlife Conservation Society (WCS) Indonesia Program.
”Indonesia memiliki peran penting bagi dunia karena menjadi rumah bagi salah satu ekosistem laut terkaya yang dimiliki bumi ini. Lewat strategi Global Gateway, Uni Eropa turut mendukung upaya pemulihan terumbu karang, penguatan sektor perikanan, dan penciptaan peluang ekonomi bagi masyarakat pesisir, termasuk di Minahasa Utara. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa menjaga kelestarian alam dapat berjalan beriringan dengan penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan yang berkelanjutan,” ujar Denis Chaibi, Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia.
Sejak 2019 terdapat dua program yang didukung oleh Uni Eropa dan BMUKN Jerman dan dikelola WCS Indonesia di bawah pengawasan KfW. Kedua program bertujuan untuk memperkuat pengelolaan kawasan konservasi perairan (KKP), tata kelola perikanan berkelanjutan, dan penghidupan masyarakat pesisir di Sulawesi Utara dan Maluku Utara.
Program ini secara khusus memperluas cakupan kerja ke perlindungan ekosistem laut dan perikanan pesisir yang kritis di Indonesia, Filipina, dan kawasan Segitiga Terumbu Karang yang lebih luas.

melihat langsung peran mangrove sebagai pelindung pesisir dan penopang kehidupan masyarakat setempat.
Mewakili Direktur Jenderal Konservasi Sumberdaya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Sekretaris Direktorat Jenderal KSDAE, Nandang Prihadi mengatakan,
“Kami mengapresiasi Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara, Uni Eropa, KfW German Development Bank, WCS, serta seluruh mitra yang telah berkontribusi dalam penyelenggaraan kegiatan ini. Kami berharap kunjungan lapangan ini menjadi momentum untuk memperkuat kerja sama internasional sekaligus memperlihatkan praktik-praktik terbaik pengelolaan kawasan konservasi dan pemberdayaan masyarakat di Sulawesi Utara,” ujar Nandang.
Kemajuan dan Dampak yang Telah Dicapai Program tersebut telah memberikan dampak positif yang signifikan bagi lingkungan, ekonomi, serta sosial tidak hanya di wilayah Sulawesi Utara dan Maluku Utara, tapi juga di Nusa Tenggara Barat, dan Aceh.

Dalam hal pelestarian terumbu karang dan ekosistem laut, program ini telah mendukung pembentukan dan penguatan pengelolaan 21 kawasan konservasi perairan seluas 1.631.572 hektar di empat wilayah tersebut.
Di dalamnya termasuk 16.613 hektar terumbu karang, 14.318 hektar mangrove, dan 10.582 hektar padang lamun yang didukung oleh Uni Eropa.
Di sisi perikanan berkelanjutan dan ketahanan pangan, empat kawasan pengelolaan perikanan berbasis ekosistem kini telah berhasil menjaga kesehatan stok 27 spesies ikan utama, termasuk kakap, kerapu, dan ikan pelagis kecil yang menjadi sumber penghidupan masyarakat.

Minahasa Utara, di sela-sela kunjungan lapangan program kerja sama pelestarian ekosistem pesisir atas program kerja sama dengan Kementerian
Kehutanan (Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem), didanai oleh Uni Eropa melalui Bank Pembangunan Jerman (KfW),
berkolaborasi dengan Wildlife Conservation Society (WCS) Indonesia Program.
Di Desa Gangga Dua, penutupan musiman perikanan bagan yang disepakati bersama nelayan berhasil mendongkrak pendapatan nelayan dari sekitar Rp20 juta menjadi Rp48 juta per musim.
Terkait perekonomian dan penghidupan masyarakat pesisir; sebanyak 29 kelompok pengawas masyarakat (Pokmaswas) dan 19 komunitas pesisir kini terlibat dalam usaha berbasis konservasi, termasuk pengolahan hasil laut, seperti produksi bakso ikan dan keripik pisang oleh Poklahsar Kalkop di Desa Bulutui, yang meningkatkan pendapatan dan kemandirian ekonomi perempuan pesisir.
Selain itu, kegiatan ekowisata berbasis masyarakat berkembang cukup pesat. Kelompok sadar wisata (Pokdarwis) di Desa Bahoi dan Lihunu telah mengembangkan ekowisata snorkeling, homestay, dan jasa pemandu wisata.
Desa Lihunu bahkan dinobatkan sebagai salah satu dari 500 Desa Wisata Terbaik (ADWI) oleh Kementerian Pariwisata pada April 2024.
Sementara itu, juga terdapat kemajuan di aspek tata kelola dan pembiayaan berkelanjutan, dimana Pemerintah Provinsi telah berkomitmen mengembangkan skema pembiayaan berbasis kinerja
(BLUD) untuk mendanai pengelolaan kawasan konservasi dan perikanan secara mandiri dan berkelanjutan, mengurangi ketergantungan pada pendanaan program jangka pendek.
Secara keseluruhan, program ini telah menjangkau 5.752 penerima manfaat langsung serta sekitar 24.542 penerima manfaat tidak langsung di Sulawesi Utara dan Maluku Utara, melalui peningkatan kapasitas, penguatan kelembagaan masyarakat, dan pengembangan mata pencaharian berkelanjutan.

Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus, SE, Gubernur Sulawesi Utara, menyampaikan apresiasi dan sambutan hangat kepada Delegasi Uni Eropa.
”Atas nama Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara, saya menyambut baik dan menyampaikan selamat datang di Bumi Nyiur Melambai. Kunjungan ini merupakan kehormatan bagi kami, karena menegaskan kuatnya sinergi internasional dalam mendukung agenda keberlanjutan global di daerah kami. Saya menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Delegasi Uni Eropa, Pemerintah Pusat, KfW, dan WCS atas dedikasi dan kolaborasinya untuk Sulawesi Utara,” ujar Gubernur Yulius.
Delegasi Uni Eropa dan para pihak terkait menegaskan bahwa kunjungan ini menjadi momentum untuk memperluas dukungan publik, filantropi, dan sektor swasta bagi pengelolaan perikanan berkelanjutan, ekonomi biru atau blue economy, dan pariwisata berbasis alam. Dukungan ini diharapkan dapat memastikan keanekaragaman hayati laut tetap menjadi pusat agenda ekonomi biru Indonesia yang inklusif dan berkelanjutan.
Tentang Uni Eropa (EU)
Uni Eropa (EU) adalah persatuan ekonomi dan politik dari 27 Negara Anggota. Bersama-sama, sejak 1951, EU telah membangun zona yang stabil, demokratis dan pembangunan yang berkelanjutan, dengan tetap menjaga keragaman budaya, toleransi dan kebebasan individu.
Dalam hubungan eksternalnya, Uni Eropa berkomitmen untuk menjunjung tinggi nilai-nilai dan kepentingannya, memajukan perdamaian, keamanan, dan pembangunan berkelanjutan di seluruh dunia.
EU berupaya memperkuat solidaritas dan rasa saling menghormati antarbangsa, memajukan perdagangan bebas dan adil, berkontribusi pada keberlanjutan global, serta melindungi hak asasi manusia dan lingkungan selalu dengan sepenuhnya menghormati hukum internasional.
27 negara anggota Uni Eropa (dalam urutan protokol) adalah : Belgia, Bulgaria, Republik Ceko, Denmark, Jerman, Estonia, Irlandia, Yunani, Spanyol, Perancis, Italia, Siprus, Latvia, Lituania, Luksemburg, Hongaria, Malta, Belanda, Austria, Polandia, Portugal, Romania, Slovenia, Slovakia, Finlandia dan Swedia.
Tentang Global Gateway
Internasional Global Gateway adalah strategi baru Eropa untuk meningkatkan konektivitas yang cerdas, bersih, dan aman di sektor digital, energi, dan transportasi, serta memperkuat sistem kesehatan, pendidikan, dan penelitian di seluruh dunia.
Komisi Eropa dan Perwakilan Tinggi Uni Eropa meluncurkannya pada tahun 2021. Global Gateway bertujuan untuk memobilisasi investasi hingga €300 miliar melalui pendekatan Tim Eropa, yang menyatukan Uni Eropa, Negara-negara Anggotanya, serta lembaga keuangan dan pembangunan mereka.
Strategi ini berupaya menciptakan dampak transformatif di sektor digital, iklim dan energi, transportasi, kesehatan, serta pendidikan dan penelitian.
Fokusnya adalah pada investasi cerdas di sektor infrastruktur berkualitas, yang menjunjung standar sosial dan lingkungan tertinggi, sejalan dengan kepentingan dan nilai-nilai Uni Eropa: supremasi hukum, hak asasi manusia, dan norma serta standar internasional.
Tentang KfW
KfW (Kreditanstalt für Wiederaufbau) adalah bank pembangunan dan investasi milik negara Jerman.
Beroperasi secara global tanpa cabang ritel, bank ini fokus pada pembiayaan dan mendukung pembangunan ekonomi, sosial, dan lingkungan yang berkelanjutan atas nama pemerintah Jerman.
Di Indonesia, KfW telah menjadi mitra strategis sejak tahun 1962, dengan menyalurkan pinjaman lunak berskala besar dan hibah untuk investasi terkait iklim, termasuk inisiatif ekonomi “hijau” dan “biru” (hutan dan laut), aksi iklim, serta konservasi keanekaragaman hayati.
Tentang Wildlife Conservation Society (WCS) Indonesia
Wildlife Conservation Society (WCS) adalah organisasi non-pemerintah global yang berkantor pusat di New York, yang berdedikasi untuk menyelamatkan hidupanliar dan habitat alami melalui sains, aksi konservasi, pendidikan, dan pelibatan masyarakat.
Di Indonesia, WCS bermitra dengan pemerintah untuk melindungi benteng pertahanan alam (“Nature’s Strongholds”), guna memastikan pengelolaan kawasan lindung darat maupun laut yang efektif.
Membentang di kepulauan Indonesia dari Pulau Weh di Aceh hingga Pulau Seram di Maluku, WCS berfokus pada perlindungan spesies prioritas, termasuk harimau sumatera, badak sumatera, gajah sumatera, rangkong gading, maleo, babirusa, kura-kura rote, penyu, dan berbagai spesies terumbu karang.
Untuk mencapai hal ini, WCS menerapkan pendekatan berbasis sains untuk memitigasi konflik manusia-satwa liar, membongkar jaringan perdagangan ilegal hidupanliar (Illegal Wildlife Trade/IWT), menghentikan praktik penangkapan ikan yang merusak, mereformasi kebijakan satwa liar, mempromosikan pendekatan One Health, menghapus risiko deforestasi dari rantai pasok komoditas, serta mengembangkan mekanisme pendanaan berkelanjutan yang inovatif.
(liputan khusus)
















