Manado, MEDIAALTERNATIF.ID Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Utara (Sulut) menggelar Upacara Peringatan 81 Tahun Peristiwa Merah Putih di Lapangan KONI Sario, Manado, Sabtu (14/2/2026) pagi dengan tema “Merah Putih Abadi: Inovasi dan Kolaborasi Sulut untuk Indonesia Maju”.
Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus Komaling (YSK) memaknai peristiwa ini sebagai semangat heroik para pejuang Tangsi Militer Teling yang harus diwujudkan dalam langkah-langkah konkret membangun daerah yang lebih maju dan sejahtera.
Peristiwa Merah Putih di Manado merupakan peristiwa penyerbuan markas militer Belanda yang berada di Teling, Manado, pada tanggal 14 Februari 1946.
Berbagai himpunan rakyat di Sulawesi Utara, meliputi pasukan KNIL dari kalangan pribumi, barisan pejuang, dan laskar rakyat berusaha merebut kembali kekuasaan atas Manado, Tomohon, dan Minahasa yang ditandai dengan pengibaran bendera merah putih di atas gedung tangsi militer Belanda.
Peristiwa tersebut merupakan bentuk perlawanan rakyat Sulawesi Utara untuk mempertahankan kemerdekaannya serta menolak atas provokasi tentara Belanda yang menyatakan bahwa proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 hanya untuk Pulau Sumatera dan Jawa semata.
Dengan semangat dirinya sebagai seorang militer, Gubernur YSK menyampaikan bahwa seiring berjalannya waktu, makna Peristiwa Merah Putih semakin relevan untuk dijadikan landasan menghadapi era digital dan tantangan global.
“81 tahun yang lalu, para pahlawan kita berjuang dengan keberanian untuk kedaulatan. Kini, kita harus berjuang dengan inovasi dan kerja sama untuk kesejahteraan rakyat dan keutuhan NKRI,” ujarnya.
Sebagai kelanjutan komitmen tahun sebelumnya, Pemerintah Provinsi Sulut menghadirkan rangkaian kegiatan yang mengintegrasikan nilai sejarah dengan kemajuan zaman.
Di antaranya adalah Festival Inovasi Merah Putih yang menghadirkan karya-karya kreatif anak muda Sulut di bidang teknologi digital, pertanian modern, dan energi terbarukan.
Selain itu, digelar juga Lomba Sejarah Digital untuk meningkatkan literasi sejarah melalui konten yang menarik dan mudah diakses oleh generasi muda.
Tahun ini, pemerintah juga meluncurkan program “Petani Merah Putih” yang memberikan bantuan teknologi dan pendampingan kepada petani di seluruh Sulut, sebagai wujud transformasi semangat juang untuk melawan kemiskinan.
Program kerja sama antara pemerintah, TNI, Polri, akademisi, dan pelaku usaha juga diperkuat melalui pembentukan “Gugus Merah Putih Kolaboratif” yang fokus pada pengembangan infrastruktur dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Gubernur juga mengungkapkan bahwa hasil dari implementasi tiga instruksi tahun lalu telah menunjukkan perkembangan positif: literasi sejarah meningkat sebesar 35% melalui program sekolah sejarah yang digalakkan di seluruh daerah.
Sinergi antar komponen bangsa semakin erat dalam menangani berbagai persoalan masyarakat, dan angka kemiskinan di Sulut turun sebesar 2,1% pada tahun 2026.
“Kita tidak hanya mengenang sejarah, tetapi juga membuktikan bahwa semangat Merah Putih mampu membawa perubahan nyata bagi kehidupan rakyat. Sulut akan terus menjadi penjaga warna merah putih di tanah paling utara Nusantara,” tegasnya.
Turut hadir dalam acara tersebut Ketua TP PKK Sulut Anik Yulius Selvanus, para Bupati dan Walikota se-Sulut, unsur Forkopimda, TNI-Polri, ASN, atlet, pelajar, mahasiswa, tokoh masyarakat, serta keluarga besar pejuang Peristiwa Merah Putih.
Setelah upacara, kegiatan dilanjutkan dengan pertunjukan seni budaya yang menggabungkan tradisi lokal seperti Kabasaran, Maengket, dan Kolintang dengan pertunjukan teknologi seperti proyeksi mapping yang memperlihatkan perjalanan sejarah Sulut dari masa perjuangan hingga masa kemajuan.
(*/toar)















