Manado, MEDIAALTERNATIF.ID – Sektor pariwisata Sulawesi Utara (Sulut) bersiap naik kelas ke panggung dunia. Kunjungan strategis 14 Duta Besar negara-negara Uni Eropa ke Bumi Nyiur Melambai pada Jumat (17/7/2026) menjadi momentum emas untuk Pemerintah Provinsi.
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sulut, dr. Kartika Devi Tanos, MARS, menegaskan bahwa kehadiran para diplomat tertinggi Eropa ini adalah kesempatan langka sekaligus karpet merah untuk memamerkan seluruh potensi hidden gem yang dimiliki Sulawesi Utara.
”Dengan adanya kunjungan 14 duta besar Uni Eropa ke Sulawesi Utara, ini merupakan suatu kesempatan besar bagi kita untuk mempromosikan potensi-potensi pariwisata di Sulut,” ujar dr. Devi Tanos kepada mediaalternatif, Sabtu (18/7/2026).
Tidak sekadar menjual keindahan alam, dr. Devi Tanos juga menggunakan kesempatan ini sebagai forum diplomasi pariwisata yang taktis. Di hadapan para dubes, ia memaparkan berbagai program strategis yang selama ini telah dieksekusi Pemprov Sulut demi mendongkrak ekosistem pariwisata daerah.
Magnet Sustainable Tourism di Mata Eropa
Menariknya, daya tarik utama yang membuat para delegasi Uni Eropa kepincut bukanlah sekadar visual destinasi yang indah, melainkan komitmen Sulut terhadap kelestarian lingkungan. Konsep pariwisata hijau atau sustainable tourism menjadi pemikat utama dalam diskusi tersebut.
Dokter Devi membeberkan bahwa para dubes sangat tertarik pada formula keseimbangan yang diterapkan Sulut: bagaimana mendatangkan turis sebanyak-banyaknya, namun alam tetap terjaga dengan lestari.
”Dalam hal ini, ketertarikan mereka adalah bagaimana kita bisa menjalankan pariwisata yang berkelanjutan dengan menjaga kelestarian alam yang kita miliki, bersamaan dengan meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara dan nusantara ke destinasi-destinasi pariwisata di Sulut,” jelas Kadispar berparas menawan ini.
Lewat pertemuan ini, dr. Devi Tanos berharap kunjungan wisatawan asal benua biru ke Sulut tidak hanya meningkat secara kuantitas, tetapi juga kualitas (quality tourism), di mana para pelancong menghargai dan ikut menjaga warisan alam Sulawesi Utara.
Langkah taktis Dispar Sulut di bawah komando dr. Devi Tanos ini diyakini akan mempercepat transformasi Sulut sebagai magnet utama pariwisata berkelanjutan di Indonesia Timur.
Kesempatan yang sama, Duta Besar Uni Eropa mengonfirmasi bahwa seluruh rangkaian kunjungan kerja di luar Pulau Jawa ini dipusatkan di Provinsi Sulawesi Utara, dengan fokus utama di Kabupaten Minahasa Utara.
Kehadiran mereka bertujuan untuk meninjau langsung dampak positif dari program penguatan blue economy (ekonomi biru), pengelolaan perikanan berkelanjutan, serta pariwisata berbasis alam yang sukses diterapkan di wilayah pesisir Minahasa Utara.
Salah satu keberhasilan nyata yang ditinjau berada di Desa Gangga Dua. Program penutupan musiman perikanan bagan yang disepakati bersama oleh para nelayan setempat terbukti berhasil mendongkrak pendapatan secara drastis, dari yang awalnya sekitar Rp20 juta menjadi Rp48 juta per musim.
Melalui kunjungan bersejarah ini, delegasi Uni Eropa bersama para pemangku kepentingan menegaskan komitmen mereka untuk memperluas dukungan dari sektor publik, filantropi, dan swasta.
Langkah ini diambil guna memastikan keanekaragaman hayati laut tetap menjadi motor utama dalam agenda ekonomi biru Indonesia yang inklusif dan berkelanjutan.
(toar)














