Manado, MEDIAALTERNATIF.ID – Politisi Partai Gerindra, Jenni Retno Vincentia, menilai posisi ekonomi Indonesia saat ini menunjukkan fondasi ketahanan nasional yang relatif kuat dibanding sejumlah negara ASEAN lainnya, terutama dalam aspek ketahanan pangan dan ketergantungan impor energi.
Pernyataan tersebut disampaikan Jenni Retno Vincentia menanggapi data pertumbuhan ekonomi dan struktur impor kawasan ASEAN yang beredar dalam laporan ekonomi regional terbaru.
Menurut Jenni, rendahnya persentase impor Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) menjadi indikator penting bahwa ekonomi nasional memiliki daya tahan yang cukup baik menghadapi tekanan global.
”Indonesia berada pada posisi dengan nilai impor terkecil, yakni sekitar 13,6 persen dari PDB. Ini menunjukkan pondasi ketahanan pangan, energi, dan kebutuhan dasar kita relatif lebih kuat dibanding beberapa negara ASEAN lainnya,” ujar Jenni dalam keterangannya, Jumat (29/5/2026).
Ia juga menilai kondisi tersebut memperlihatkan bahwa aktivitas ekonomi masyarakat Indonesia, khususnya di pedesaan, masih banyak ditopang oleh kekuatan ekonomi domestik dan sumber daya lokal.
”Kalau ada yang bilang masyarakat desa tidak terlalu bergantung pada dolar Amerika, memang dalam realitas tertentu itu ada benarnya. Aktivitas ekonomi desa masih banyak berjalan dengan kekuatan lokal,” katanya.
Jenni turut menyinggung proyeksi pertumbuhan ekonomi sejumlah negara ASEAN pada 2026 yang menempatkan Vietnam diperkirakan tumbuh paling tinggi, disusul Indonesia.
Namun menurutnya, kondisi Indonesia tetap memiliki keunggulan tersendiri karena ketahanan ekonomi nasional tidak hanya diukur dari angka pertumbuhan, tetapi juga dari kemampuan menghadapi tekanan eksternal seperti krisis energi dan gejolak geopolitik global.
Ia mengatakan tingginya ketergantungan impor energi dari kawasan Timur Tengah membuat sejumlah negara ASEAN rentan terhadap lonjakan inflasi dan perlambatan konsumsi domestik.
”Indonesia justru berada dalam posisi yang lebih aman karena struktur ekonominya lebih ditopang oleh kekuatan domestik,” ujarnya.
Jenni juga menyampaikan optimisme terhadap arah kebijakan ekonomi nasional di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto yang dinilai fokus memperkuat kemandirian nasional di sektor pangan, energi, dan industri strategis.
”Indonesia memiliki peluang besar menjadi kekuatan ekonomi utama kawasan apabila ketahanan nasional terus diperkuat secara konsisten,” katanya.
Meski demikian, ia mengingatkan, tantangan global tetap harus diwaspadai, mulai dari dinamika geopolitik dunia, fluktuasi harga energi, hingga perubahan rantai perdagangan internasional yang dapat memengaruhi stabilitas ekonomi kawasan ASEAN.
(askara)










